Siapa Tokoh dunia yang menguasai Industri
Media ?
Ia adalah Rupert Murdoch yang membangun kerajaan bisnis medianya dengan nama
News Corporations, salah satu perusahaan media terbesar dan paling berpengaruh
di dunia. Perusahaan yang dimiliki NewsFOX dan Harper Collins di Amerika
Serikat dan BSkyB di Britania Raya. Ia sebelumnya merupakan warga negara
Australia, namun kemudian secara resmi menjadi warga negara Amerika Serikat
terkait dengan keberadaan bisnisnya di negara Paman Sam tersebut.
Bagaimana Teknologi Komunikasi Mendukung kerja
Korporasi?
Teknologi Komunikasi yang terjadi dalam
perusahaan terjadi atas dua macam arah yaitu vertical dan horizontal.
Komunikasi horizontal (mendatar) adalah komunikasi yang terjadi antar karyawan
setingkat. Bila komunikasi mendatar lebih dominant dalam perusahaan maka
pemimpin perusahaan akan mendapat saingan karena secara sengaja atau tidak
informasi banyak yang tidak sampai kepadanya. Hal ini juga dapat menyebabkan
keputusan yang diambil menjadi kurang tepat atau bijaksana.
Komunikasi yang paling banyak terjadi adalah
komunikasi vertical dari atas ke bawah, dimana atasan selalu memerintah
bawahannya untuk melakukan pekerjaan. Namun seharusnya, terjadi pula arah yang
sebaliknya yaitu dari bawah ke atas, sehingga informasi dari bawahan dapat
menjadi bahan pertimbangan atasan untuk membuat keputusan. Isi komunikasi
vertical atas ke bawah, biasanya mengandung pengarahan arau kritik terhadap
kinerja bawahan.
Hubungan antara komunikasi dan konflik itu
sangat dominan. Didalam perusahaan peranan komunikasi itu sangat penting
sekali, karena jika komunikasi tidak berjalan dengan baik , akan mengakibatkan
banyak terjadi konflik. Sebaliknya, jika komunikasi dua arah antara pihak
management dengan karyawan itu dapat berjalan dengan baik,maka akan dapat
mengurangi terjadinya konflik.
Media yang digunakan
Kemudahan berkomunikasi dalam perusahaan kini
telah berkembang canggih dan dapat dikatakan mutlak dibutuhkan. Dalam kemajuan
teknologi yang begitu pesat, komunikasi merupakan salah satu yang paling
berpengaruh.
Teknologi komunikasi yang memudahkan dalam
perusahaan baik digunakan secara internal atau eksternal yang kini berkembang
diantaranya IM, GAIM, ICQ, Mobile VPN, BLOG dan lain-lain
Namun,kemudahan-kemudahan itu bukanlah tanpa
efek. Sebuah perusahaan membutuhkan chatroom untuk komunikasi internalnya.
Terutama akan sangat berguna untuk virtual meeting dengan kantor-kantor cabang.
Tetapi, fasilitas chatroom di berbagai pemberi layanan IM (Instant Messenger)
di non-aktifkan. Chatroom public tidak bisa digunakan, karena bisa menyebabkan
kebocoran rahasia perusahaan.
Selain itu, perusahaan ini menggunakan
berbagai layanan IM untuk berkomunikasi baik internal maupun external
(customer); ICQ, Yahoo Messenger, dll. Ada komplain bahwa ini menyebabkan
terlalu banyak software yang terpasang di komputer user.
Berapa banyak Korporasi Media Massa yang ada
di Indonesia?
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan
media massa di Indonesia cukup menakjubkan. Perkembangan tersebut mulai bangkit
sejak tumbangnya Orde Baru dan munculnya era Reformasi. Pada era Reformasi itu,
pemerintah menerbitkan UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers. Dalam UU
ini, istilah kebebasan pers disepakati diganti menjadi kemerdekaan pers, yakni
salah satu wujud kedaulatan rakyat yang berasaskan prinsip-prinsip demokrasi,
keadilan, dan supremasi hukum. Pada zaman inilah setiap orang berlomba-lomba
menginformasikan segala sesuatu lewat media massa tersebut. Tak hanya itu saja,
banyak orang yang mendirikan perusahaan media massa, seperti dibidang
pertelevisian, radio, dan media cetak.
Sasa Djuarsa Sendjaya dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung (2000:6) menyampaikan data-data tentang perkembangan media sebagai berikut:
Sasa Djuarsa Sendjaya dalam Orasi Ilmiah Dies Natalis Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung (2000:6) menyampaikan data-data tentang perkembangan media sebagai berikut:
(1) di bidang pertelevisian, selain jaringan
TVRI, terdapat 10 (sepuluh) stasiun televisi swasta, yaitu RCTI, TPI, SCTV,
ANTEVE, INDOSIAR, METRO TV, TRANSTV, TRANS7, tvOne, dan GLOBAL TV. Di samping
itu kini telah beroperasi 7 televisi berlangganan satelit, 6 televisi
berlangganan terrestrial, dan 17 televisi berlangganan kabel;
(2) dunia penyiaran radio pun mengalami
kemajuan meskipun tidak sepesat televisi. Hingga akhir tahun 2002, terdapat
1188 Stasiun Siaran Radio di Indonesia. Jumlah itu terdiri atas 56 stasiun RRI
dan 1132 buah Stasiun Radio Swasta;
(3) perkembangan industri dan bisnis penyiaran
juga telah mendorong tumbuh pesatnya bisnis rumah produksi (Production
House/PH). Sebelum krisis ekonomi, tercatat ada 298 buah perusahaan PH yang
beroperasi di mana sekitar 80% di antaranya berada di Jakarta. Pada saat
krisis, khususnya antara tahun 1997-1999, jumlah PH yang beroperasi menurun
drastis sampai sekitar 60%. Pada tahun 2003, bisnis PH secara perlahan kembali
bangkit yang antara lain didorong oleh peningkatan jumlah televisi swasta.
Kebutuhan TV swasta akan berbagai acara siaran, mulai acara hiburan sampai
acara informasi dan pendidikan, banyak diproduksi oleh PH lokal; serta
(4) dalam bisnis media penerbitan, khususnya
surat kabar dan majalah, juga mengalami peningkatan khususnya dalam hal
kuantitas. Pada tahun 2000, menurut laporan MASINDO, terdapat 358 media
penerbitan. Jumlah tersebut terdiri atas 104 surat kabar, 115 tabloid, dan 139
majalah. Hal menarik dalam penerbitan media massa cetak ini adalah semakin
beragamnya pelayanan isi yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan segmen
khalayak pembacanya.
Dengan perkembangan seperti di atas, baik dalam jumlah maupun jenisnya, mustahil semua media massa menguasai seluruh pasar yang ada. Sebaliknya, kecil sekali kemungkinan hanya satu media massa dapat menguasai seluruh pasar, dalam arti memenuhi segala macam tuntutan pasar, karena tuntutan pasar juga sangat bervariasi. Kompetisi telah menjadi kata kunci dalam kehidupan media massa saat ini. Dalam memperebutkan pangsa pasar, kompetisi media massa tidak hanya meliputi aspek isi, penyajian berita atau bentuk liputan lainnya, tetapi juga aspek periklanan. Media massa pun kemudian berkembang menuju konsep yang kapitalis. Artinya, media massa mempunyai keterikatan dengan industri pasar, yang secara lebih luas dengan sistem kapitalis dan kapitalisme. Media massa mengalami kontradiksi dimana di satu sisi sebagai institusi kapitalis yang berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal, sementara di sisi lain idealisme media massa menuntut peran sebagai sarana pendidikan agar pembaca, pemirsa, atau pendengar memiliki sikap kritis, kemandirian dan kedalaman berpikir.
Saat ini tidak ada yang bisa membantah kedigdayaan rezim kapitalisme yang mendominasi peradaban dunia global. Berakhirnya Perang Dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas, termasuk dalam industri media. Sehingga, industri media memiliki kaitan yang sangat erat dengan tumbuhnya semangat kapitalisme. Munculnya konglomerasi media, satu perusahaan besar menaungi beberapa media sekaligus seperti misalnya MNC, Trans Corp, dan Kelompok Kompas Gramedia (KKG), dianggap sebagai aktivitas pemusatan modal dalam industri media.
Dengan perkembangan seperti di atas, baik dalam jumlah maupun jenisnya, mustahil semua media massa menguasai seluruh pasar yang ada. Sebaliknya, kecil sekali kemungkinan hanya satu media massa dapat menguasai seluruh pasar, dalam arti memenuhi segala macam tuntutan pasar, karena tuntutan pasar juga sangat bervariasi. Kompetisi telah menjadi kata kunci dalam kehidupan media massa saat ini. Dalam memperebutkan pangsa pasar, kompetisi media massa tidak hanya meliputi aspek isi, penyajian berita atau bentuk liputan lainnya, tetapi juga aspek periklanan. Media massa pun kemudian berkembang menuju konsep yang kapitalis. Artinya, media massa mempunyai keterikatan dengan industri pasar, yang secara lebih luas dengan sistem kapitalis dan kapitalisme. Media massa mengalami kontradiksi dimana di satu sisi sebagai institusi kapitalis yang berorientasi pada keuntungan dan akumulasi modal, sementara di sisi lain idealisme media massa menuntut peran sebagai sarana pendidikan agar pembaca, pemirsa, atau pendengar memiliki sikap kritis, kemandirian dan kedalaman berpikir.
Saat ini tidak ada yang bisa membantah kedigdayaan rezim kapitalisme yang mendominasi peradaban dunia global. Berakhirnya Perang Dingin menyusul ambruknya komunisme-sosialisme Uni Soviet beserta negara-negara satelitnya sering diinterpretasikan sebagai kemenangan kapitalisme. Hampir dalam setiap sektor kehidupan, logika dan budaya kapitalisme hadir menggerakkan aktivitas, termasuk dalam industri media. Sehingga, industri media memiliki kaitan yang sangat erat dengan tumbuhnya semangat kapitalisme. Munculnya konglomerasi media, satu perusahaan besar menaungi beberapa media sekaligus seperti misalnya MNC, Trans Corp, dan Kelompok Kompas Gramedia (KKG), dianggap sebagai aktivitas pemusatan modal dalam industri media.
Unsur persaingan bisnis apa yang sekarang
dilakukan di Media Massa ?
Persaingan usaha tidak sehat antarpelaku media
massa nasional di era Reformasi semakin transparan seiring dengan terbukanya
kran kebebasan pers, bahkan dalam menjalankan produksi dilakukan dengan cara
tidak jujur. Fenomena ini sudah berlangsung lama sejak era Orde Baru dengan
diberlakukannya regulasi di bidang SIUPP, namun media tersebut akhir-akhir ini
perkembangannya cenderung mengabaikan etika dan merugikan masyarakat. Keadaan
ini menimbulkan berbagai permasalahan dan kehawatiran antara kepentingan
idealisme pers dan aspek komersial, serta pelaksanaan kemerdekaan pers menjadi
terganggu. Penulis berpendapat hal ini merupakan salah satu akibat dengan
diberlakukannya ketentuan UU Pers yang memperkenankan media massa dapat
berfungsi sebagai lembaga ekonomi. Penelitian melalui metode yuridis normatif,
meneliti keadaan hukum persaingan usaha dirangkai dengan hukum media massa dan
kemerdekaan pers, menggunakan tahap penelitian kepustakaan dan lapangan, serta
teknik pengumpulan data melalui studi dokumen dan wawancara sebagai pendukung
data sekunder. Penulis menemukan suatu gagasan baru dengan harapan bisa
diterapkan sambil menunggu terbentuknya revisi undang-undang baru tentang pers,
yaitu mendahulukan asas keseimbangan dan keadilan di antara kepentingan
idealisme pers dan aspek komersial. Dengan gagasan ini mudah-mudahan apa yang
tersirat dalam kata-kata kemerdekaan pers yang merupakan hak asasi manusia,
benar-benar mendapat jaminan kepastian hukum. Dalam hal ini, fungsi ekonomi
yang dimiliki oleh pers dapat saja menjadi boomerang bagi pers sendiri. Ketika
pemilik modal intervensi terlalu besar dalam redaksi tentunya dapat
mengakibatkan pers tidak mandiri. Padahal kemandirian adalah wujud dari
independensi pers itu sendiri, utamanya dalam menegakkan kebenaran dan
keadilan. Agar penanganannya lebih optimal, proses penyelesaian sengketa
industri media massa terkait persaingan usaha tidak sehat dapat dilakukan KPPU,
sedangkan pelanggaran etika professi dan delik pers diselesaikan oleh Dewan
Pers sebelum ditangani pihak kepolisian dan pengadilan. Untuk menghindari
tumpang tindih peraturan dan kewenangan mengadili, dalam konteks kasus pers
ruang lingkup pemeriksaan dua lembaga idependen yakni KPPU dan Dewan Pers
seyogianya ditempatkan pada ranah yang terpisah sesuai hukum yang berlaku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar